"O those who believe, is to obey God, you also obey the RasulNya, and you do not mensia wasted (reward) is charity." (Muhammad: 33) (Muhammad: 33)
Memang Ramadhan dalam konteks waktu dan salah satu dari bulan Allah sudah berlalu meninggalkan kita. Indeed Ramadan in the context of time and one of the days of Allah we leave the past. Namun semangat dan nilai Ramadhan sepatutnya tetap hadir menyertai keseharian kita. But the spirit of Ramadan and the value should remain present accompany us daily. Ramadhan bukan “satu-satunya” bulan untuk beramal dan bertaqarub kepada Allah. Ramadan is not "only" days to do and bertaqarub to God. Ramadhan hanya momentum untuk meningkatkan dan memaksimalkan kebaikan kita sebagai bekal menghadapi sebelas bulan berikutnya. Ramadan only momentum to improve and maximize the good of our stock as the next eleven months. Untuk itu, Ramadhan akan senantiasa hadir menyambangi kita pada setiap tahunnya. Therefore, Ramadan will always be present menyambangi on us every year. Alangkah rugi dan pelitnya seseorang yang hanya mau bersemangat beribadah dan beramal shalih hanya di bulan tertentu. Pelitnya loss and how someone who only want vibrant worship and do Salih only in a particular month. Demikian juga tidaklah baik seseorang yang hanya mampu beribadah dengan baik dan maksimal di tempat tertentu yang mengandung nilai pahala lebih, seperti di Mekkah misalnya ketika menunaikan ibadah umrah atau haji, namun setelah pulang ke tanah air, kelesuan beribadah kembali terjadi di mana-mana. Similarly someone who is not only better able to worship with the good and the maximum at a certain place that has more value reward, such as for example in Mecca when praying the `Umrah or Hajj, but after returning to the country, going back sluggishness worship everywhere.
Ayat ini oleh sebagian mufassir dijadikan dasar akan hilangnya pahala amal kebaikan yang berhasil dilakukan oleh seseorang jika setelah kebaikan itu ia kembali terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan, atau jika ia tidak mampu mempertahankan kebaikan tersebut di waktu berikutnya. This paragraph is made by a mufassir basic wage will be the loss of charitable good works done by someone after a good deed if he fell back into sin and kemaksiatan, or if he was not able to maintain it in good times. Ayat ini juga secara korelatif memiliki hubung kait yang erat dengan ayat sebelumnya: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. This paragraph also korelatif have Hubung hook closely with the previous paragraph: "Those who disbelieve and (a) prevent people from the path of Allah and the Messenger after guidance memusuhi it clear to them, they can not give to God mudharat bit. dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 32). and God will take (the reward) their deeds. "(Muhammad: 32).
Kontens kedua ayat tersebut intinya berbicara tentang perilaku yang dapat menyia-nyiakan amal kebaikan, Perbedaannya, pada ayat 32 ini ancaman Allah ditujukan kepada mereka yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan memusuhi Rasulullah saw, sehingga pada ayat 33 Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak menyia-nyiakan amal ketaatan mereka dengan apapun bentuknya seperti yang diancamkan oleh Allah kepada golongan yang ingkar sebelum mereka. Kontens second paragraph is essentially talking about behavior that can dissipate the good charity, The difference is, in paragraph 32 this threat is addressed to God that they deter people from the path of Allah and the Prophet memusuhi, so that in paragraph 33 of God reminds those who believe that does not dissipate their adherence to the charity of any kind, such as which by God to the group before they were broken. Di sini bentuk kasih sayang Allah terhadap kekasih-Nya dari orang-orang beriman sangat ketara agar mereka tetap ta’at kepad-aNya kapanpun dan di manapun, tanpa ada batasan waktu dan tempat, apalagi alasan sempat dan tidak sempat. Here the love of God to his beloved of the people believe that they are very ketara fixed-ta'at kepad Anya at any time and anywhere, without any limitation of time and place, let alone the reason and had not had time.
Ayat ketiga yang berbicara tentang perilaku yang dapat mensia-siakan amal baik seseorang adalah surah Al-Hujurat: 2 yang bermaksud: The third paragraph that talked about behavior that can be wasted mensia charity good someone is Surah Al-Hujurat: 2 which means:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2). "O those who believe, do not raise voices beyond voice of the Prophet, and do not say to him with a loud voice, as part of the loudness of the part you will, that does not remove (the reward) deeds, while you do not realize." (Al-Hujurat: 2).
Adab kepada Rasulullah saw. Courtesy to the Prophet. dalam berbicara yang disebutkan oleh ayat ini langsung diperintahkan oleh Allah sawt. mentioned in the talk by this paragraph directly ordered by God sawt. yang ditujukan secara langsung juga kepada orang yang beriman, karena pada hakikatnya taat kepada Rasulullah adalah taat kepada Allah, “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. which is also directly to the people who believe, because in fact he is obedient to obey God, "He who obey the messenger is, indeed he has to obey God. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa’: 80). And whosoever turns away (from the obedience), then we do not have to be a caretaker for them. "(An-Nisa ': 80).
Justeru tidak berakhlak baik kepada Rasulullah dalam segala bentuknya dapat mengakibatkan hapusnya pahala kebaikan yang dilakukan oleh orang yang beriman. Justeru not good to have a certain Prophet in all its forms can lead to reward good hapusnya done by people who believe.
Terdapat banyak pendapat para ulama tentang sikap dan perilaku yang mengakibatkan terhapusnya amal baik seseorang. There are many opinions of the scholars about the attitude and behavior lead to a good charity deletion.
Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi misalnya menyebutkan bahwa mensia-siakan amal adalah dengan melakukan kaba’ir (dosa-dosa besar. Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Hasan Al-Bashri dengan berhujjah dengan surat Al-Hujurat: 2, bahwa tidak beradab kepada Rasulullah merupakan dosa besar yang dapat menghapus pahala amal shalih seseorang. Imam Ath-Thabari, Katsir and Ibn Al-Qurthubi said that for example mensia wasted with the charity is doing kaba'ir (major sins. Books like this never raised by Hasan Al-Bashri with berhujjah with the letter of Al-Hujurat: 2, that is not polite to the Messenger of Allah is a sin which can remove large reward someone Salih charity.
Imam Qatadah pula berpendapat bahwa amal kebaikan akan sia-sia apabila setelah itu diiringi dengan kembali melakukan dosa dan kemaksiatan. Imam Qatadah also argued that the good deed will be useless after that, when accompanied with a return to sin and kemaksiatan. Sedangkan Ibnu Abbas berpandangan bahwa amal kebaikan itu dikhawatirkan akan hapus pahalanya jika disertai dengan riya’ dan ‘ujub (berbangga diri). While Ibn Abbas holds that charity is good is feared will be clear if the reward comes with riya 'and' ujub (berbangga themselves).
Secara umum pendapat mereka berkisar pada segala jenis kemaksiatan dan dosa, apapun bentuknya dikhawatirkan akan menghapus dan mensia-siakan amal taat yang pernah dilakukan oleh seseorang. In general, their opinions on the range and all types of kemaksiatan sin, regardless of feared and will remove mensia wasted obey the charity had done by someone.
Pandangan para ulama di atas diperkuat oleh sebab turun ayat ini seperti yang diriwayatkan oleh Abul Aliyah. The view of the scholars on the strengthened because of this verse came down as diriwayatkan by Abu Al-Aliyah. Abul Aliyah menukil riwayat tentang sebab turun ayat ini bahwa para sahabat sebelum turun ayat ini memandang tidak masalah berbuat dosa karena mereka telah beriman, seperti juga mereka menganggap bahwa tidak ada gunanya amal jika disertai dengan syirik. Abu Al-Aliyah menukil down the history of this paragraph that the friends before going down this verse does not see the problem sin because they had believed, as they assume that there is no use if accompanied by the charity syirik. Maka turunlah ayat ini yang menegur mereka agar berhati-hati dengan setiap dosa karena dapat mensia-siakan amal. Go down this paragraph then the reprimand them careful with every sin because it can wasted mensia charity.
Oleh karena itu, seorang muslim “yang cerdas” adalah seorang yang mampu meneruskan musim ketaatan pasca Ramadhan. Therefore, a Muslim, "the brightest" is one that is capable of continuing adherence post-Ramadan season. Demikian pula, sejatinya orang yang telah mengukir prestasi dengan beramal dan menjalankan ketaatan yang maksimal di bulan Ramadhan, sangat disayangkan jika setelah melewatinya kembali masuk dalam kelompok pelaku maksiat. Similarly, people who have sejatinya sculp achievement with the labor and devotion to run a maximum of Ramadan, it is be pitied if after re-entry through a group of maksiat. Sebagaimana orang-orang yang sudah berhasil merasakan lezatnya ketaatan, indahnya ibadah, sangat disayangkan jika harus kalah dan kembali pada kesengsaraan karena berlumuran dosa dan kemaksiatan. As those who have successful experience lezatnya obedience, beautiful worship, be pitied if you are lost and must return to the woes of sin and berlumuran because kemaksiatan. Padahal di antara tanda diterimanya suatu amal ibadah seseorang adalah jika dia dapat konsisten dan lebih banyak lagi melakukan amal tanpa melihat waktu atau bulan tertentu dan tempat tertentu yang memiliki keutamaan. But in a sign of acceptance of a religious charity is a consistent, if he can and more to charity without the time or see a particular month and the place that has a certain superiority. “Jadilah hamba Rabbani, dan bukan hamba Ramadhani.” Dan itulah makna hakiki dari firman Allah swt, “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. "Be servants Rabbani, and not a servant ramadhani." And that is the true meaning of the word Allah, "And worship your Lord to come to believe that (end)." (Al-Hijr: 99). (Al-Hijr: 99).
So, jangan sia-siakan kebaikan ini dan jadikan “musim Ramadhan” terus mengisi waktu-waktu kita. So, do not chase wasted good and this made the "Ramadan season" continues to fill the time-our time. Amin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar